“DI BALIK KETERBATASAN KITA”

Pembacaan Alkitab: 

Keluaran 3:1-10; 4:10-16

Keluaran 3 :  1 s/d 10 

Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.

Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.

Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?”

Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.”

Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”

Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.

Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.

Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.

Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka.

Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.”

Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.”

Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?

Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.”

Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.”

Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: “Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya.

Maka engkau harus berbicara kepadanya dan menaruh perkataan itu ke dalam mulutnya; Aku akan menyertai lidahmu dan lidahnya dan mengajarkan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan.

Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya.

“DI BALIK KETERBATASAN KITA

Keluaran 4:10-12 :

Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.”

 Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN12 Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.” 

RENUNGAN : 

 Dari bacaan di atas, ketika Musa hendak diutus jadi pewarta ALLAH, banyak sekali alasan Musa untuk menghindar dari apa yang sudah dengan  di nubuatkan Tuhan kepadanya  dengan bebrbagai alasan yang digunakan akan keterbatasannya dirinya, dimana salah satunya ia menyatakan bahwa dirinya tidak bisa dan pandai bicara. Tetapi  ALLAH  menegaskan bahwa itu adalah ciptaan Tuhan dan DIA yang berkuasa diatas semua itu dan segala nya karena atas ciptaNYA ada tujuan tersendiri.

Atas hal itu, akhirnya Musa  melakukan apa yang di perintahkan dan di nubuatkan ALLAH, sehingga dia bisa melakukan hal yang besar diluar keterbatasannya bahkan bisa  membawa keluar Bangsa Israel ke tanah yang di janjikan ALLAH.

Melihat hal tersebut diatas, kita sebagai manusia seringkali kita merasa ada keterbatasan dalam diri kita dan kita merasa hal itu adalah penghalang bagi kita untuk berbuat.

Atas keterbatasan itu, kita sebagai manusia  seringkali kita menolak, dan bahkan putus asa untuk bergerak maju dengan alasan pembenar bahwa diri kita diciptakan terbatas .

Namun seharusnya  kita tidak sadar bahwa bila kita mau dan bertekad dan percaya bahwa ALLAH itu dan berkuasa atas segalanya, maka tiada yang mustahil bagi ALLAH untuk kita berbuat sesuatu yang besar karena semua yang di ciptakan ALLAH pasti ada tujuannya dan ALLAH berkuasa atas segalanya. Oleh karena itu kita harus percaya bahwa Allah dapat memakai kita apa adanya termasuk keragu-raguan dan keterbatasan.

Pokok pikiran: 

Dalam keterbatasan diri, Ada tujuan ALLAH dalam hidup  kita.               

Doa: 

Tuhan ku, aku berserah pasrah kepada MU, dan dan pakai lah aku untuk  menuju rencana-Mu dan semoga dalam  keterbatasan-keterbatasan ku  tetap  dapat digunakan untuk berkarya di dalam nama MU .

TUHAN, aku juga mendoakan mereka yang saat ini mengalami sakit dan juga baru mengalami musibah sehingga ada keterbatasan dalam dirinya, agar mereka sadar bahwa ENGKAULAH yang berkuasa di atas segalannya dan bahwa atas hal itu ada tujuan ALLAH tersendiri. AMIN.

Jakarta, 10 Pebruari 2014

Sugeng Meijanto Poerba, S.H., M.H.

AMOR DEI = AMOR NATURA

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s