“MENGAPA KITA TAKUT?”

Aman dalam perlindungan Allah

Dari Daud. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?. Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh.

Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itu pun aku tetap percaya.
Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah. TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. Sebab Ia melindungi aku dalam pondok-Nya pada waktu bahaya; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di kemah-Nya, Ia mengangkat aku ke atas gunung batu.

Maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN.

Dengarlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku!  Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN. Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku!.

Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku. Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, dan tuntunlah aku di jalan yang rata oleh sebab seteruku.

Janganlah menyerahkan aku kepada nafsu lawanku, sebab telah bangkit menyerang aku saksi-saksi dusta, dan orang-orang yang bernafaskan kelaliman. Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup!  Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!

“MENGAPA KITA TAKUT?”

Lalu berkata:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Matius 18:3)”

RENUNGAN :

Saat anak ku beruur  empat tahun, aku sering bermain dengannya. Ia mendudukkan di lututnya dan menghadapi ke arahku. Sambil memegang kedua tangannya, perlahan aku mengayunnya. Lalu tanpa melepaskan tangannya, aku berdiri dan menopang dirinya dengan lututku, aku membungkuk ke arahnya dan mengayunnya terbalik.

Aku berpikir ia akan ketakutan, tetapi aku terkejut saat ia justru tersenyum lebar. Aku melebih-lebihkan gerakanku dan berkata, “Ibu pikir kamu jatuh.” Ia pun tersenyum lebar.

Saat aku menyatakanketerkejutanku akan keberaniannya, dengan tenang ia menjawab, “Aku percaya ibu tidak akan membiarkanku jatuh.”

Sungguh kepercayaan yang luar biasa! Ia benar-benar yakin aku mengasihinya dan memegang tangannya erat. Mengapa ia harus takut?

Aku tidak pernah lupa pada kata-katanya. Yesus berkata tentang anak-anak dengan suatu maksud. Kita orang dewasa merasa takut menghadapi situasi yang mungkin menenggelamkan kita, tetapi jika kita berpegangan erat pada tangan Allah, ketahuilah Dia sangat mengasihi kita dan kita tidak memiliki alasan untuk takut.

Pokok pikiran:

Allah tetap memegang kita erat saat hidup kita jungkir balik.

Jakarta, 19 Nov

Sugeng Meijanto Poerba, S.H., M.H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s