“JANGAN MENGHAKIMI!”

Tempat yang paling utama dan yang paling rendah

Karena Tuhan melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:

“Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,

supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.

Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Siapa yang harus diundang

Dan Tuhan  berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.

Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.

Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

 

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matus 11:28)

 RENUNGAN

 Di suatu pagi saat aku  melihat seseorang membersihkan persemaian kebun, orang itu  menemukan bunga anggrek yang dulu tumbah subur dan indah, kini jelek dan layu. Tanpa pikir panjang orang itu  menarik dan melemparnya ke tengah-tengah taman. Beberapa waktu kemudian saat menyirami tanaman, aku melihat anggrek terindah yang pernah kulihat. Aku terkejut, itu adalah anggrek yang dahulu orang itu cabut.

Kejadian ini mengingatkanku akan sebuah ceritera  tentang pohon ara yang tandus dan tukang kebun yang sabar [Lukas 13:6-9 – Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!  Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” Aku membandingkan pengalaman ini dengan anggrek tadi. Tukang kebun yang sabar itu adalah kita. Meskipun tertolak sebagai orang-orang tertindas dan berbeban berat seperti pelacur, para tunawisma, anak-anak terlantar dan dilupakan masyarakat, kita harus menyadari bahwa kita memiliki karunia dan talenta.

Kita harus bersikap ramah terhadap kaum pinggiran, mereka yang tinggal di pinggiran kota besar dan kecil. Saat kita melakukannya, kita akan tinggal dalam Roh Kristus, yang berkata, “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” [baca Yohanes 12:47].

Pokok pikiran:

Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. [Matius 7:1]

AMOR DEI = AMOR NATURA

Jakarta, 30 Agustus 2012

Sugeng Meijanto Poerba, S.H., M.H.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s