TUGAS HUKUM LINGKUNGAN

Mata Kuliah                : Hukum Lingkungan

Dosen                          : Prof. Dr. Moh. Askin, S.H.

 

  1. Terangkan makna pembangunan berwawasan lingkungangan dan implikasinya dalam pembangunan ?

(Baca Tulisan Prof. Dr. Moh. Askin, S.H., : Pelestarian Sumber Daya Alam dan Penanggulangan Kemiskinan).

Jawab :

Makna pembangunan berwawasan  berwawasan likungan adalah  sutu  tujuan pengelolaan lingkungan hidup  di Indonesia, yakni  terlaksanannya  pembangunan  berwawasan lingkungan untuk  kepentingan generasi  sekarang dan mendatang. Hal ini bertujuan adalah dalam rangka untuk melaksanakan pembangunan dengan memperhatikan kepentingan lingkungan atau dengan kata lain pembangunan yang tidak merusak lingkungan.  Dengan demikian makna dari pembangunan berwawasan lingkungan adalah penggunaan dan pengelolaan sumber daya secara bijaksana.

Sedangkan penggunaan dan pengelolaan secara bijaksana  adalah senantiasa  memperhitungkan dari dampak kegiatan tersebut terhadap lingkungan serta kemampuan sumber daya  untuk menopang pembangunan secara berkesinambungan.

Implikasi dari pembanunan adalah bahwa   suatu kegiatan pembangunan jelas terdapat unsur-unsur perubahan dan hal ini jelas akan membawa dan menibulkam bagi ketidak seimbangan lingkungan, misalnya penurunan fungsi lingkungan karena di sumber daya alam ada yang sifatnya dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui, oleh karena itu dengan pembangunan yang berwawasan lingkungan perlu dilakukan  upaya sadar untuk  melakukan pemulihan lingkungan.  Sehingga dengan demikian adalah penting untuk mengusahakan cara, pola, dan kebijaksanaan pembangunan  yang  minimal tidak menggangu keseibangan (equilibrium) adri ekosistem, dan maksimal turut membina ekosistem yang lebih stabil dan dinamis  dan membina ekosistem yang lebih beragam.

 

 

  1. Terangkan  interaksi manusia dengan lingkungan hidup sehingga menimbulkan dampak negatif  terhadap lingkungan  ?

Jawab :

Interaksi manusia dengan lingkungan hidup sehingga menimbulkan dampak negatif  terhadap lingkungan  dapat dijelaskan manusia  mempunyai hubungan timbal balik  dengan lingkungannya,  sehingga aktivitas manusia mempengaruhi lingkungannya dan sebaliknya manusia dipengaruhi oleh lingkungannya.  Dengan demikian jelas ada hubungan  timbal balik antara manusia dengan lingkungannya, dan dengan meningkatnya  kegiatan manusia diikuti pula dengan meningkatnya pencemaran bumi ini dan atas  kegiatan manusia ini dapat dikelompokan ketidak seimbangan  kegiatan manusia dengan  lingkungan sebagai masalah ilmu pengetahuan, masalah ekonomi, masalah filosofi dan masalah sosial..

 

Terangkan pula kesepakatan global pengelolaan lingkungan dan penerapan prisip goodgovernace ?

(Baca  Surja  Djajadiningrat : Pemikiran dan tantangan dan permasalahan lingkungan dan bahan lainnya).

Jawab :

Kesepakatan global pengelolaan lingkungan dan penerapan prisip goodgovernace  dapat dijelaskan  bahwa  sejak terjadinya  perang dunia kedua, terjadi kecenderungan  pencemaran terus menerus terutama  mengenai pembuangan senyawa kimia dalam bentuk pembakaran miyak bumi dan penggunaan produk bioksida dan bahan bakar beracun.  Dengan meningkatnya  pencemaran secara drastic nerupakan kecenderungan  dari perubahan tingkat pertumbuhan sebagai pertumbuhan populasi manusia, maningkatnya industri kimia organic sintesis, sehingga merubah fenomena  pencemaran dari lokal menjadi global.

Sehingga pada pada tahun 1972   manusia sadar bahwa  dunia syarat dengan kemiskinan dan  kerusakan lingkungan. Sehingga  pada tahun 1972 di Stockholm  isu lingkungan diangkat menjadi isu politik global sehingga telah berhasil menyusun konsep pembangunan terpadu dengan lingkungan, dengan demikian konsep pembangunan tersebut dipadukan dengan lingkungan  dan pembangunan berkelanjutan (sustainable),  yang pada intinya merumuskan bahwa umat manusia mempunyai kemampuan  untuk menjadikan pembangunan yang besifat berkelanjutan, yaitu menjamin agar pembangunan dapat memenuhi kebutuhan masa kini tanpa menimbulkan resiko terhadap generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu didalam penanganan lingkungan yang didasarkan pada Good Governance harus meliputi partisipasi masyarakat, LSM, Pemerintah dan unsur-unsur lain terkait, supremasi hukum, transparansi, cepat tanggap, membangun konsesus, kesetaraan, efektif dan efisiensi, bertanggung jawab dan visi strategis.

  1. Bagaimana penanganan krisis lingkungan menurut padangan Meadowa dari MIT (Massachusetts Institute Technology) ?

dan bagaimana pandangan Soemitro Djojohadikusumo terhadap pandangan MIT tersebut ?

Jawab :

Penanganan krisi lingkungan menurut padangan Meadowa dari MIT (Massachusetts Institute Technology) adalah  pada pokoknya mereka berpangkal  pada anggapan : baik pertumbuhan produksi, maupun pertumbuhan pertambahan penduduk seperti telah berlangsung sampai sekarang tidak mungkin dibiarkan secara terus menerus dalam planit kita yang mempunyai batas-batas tertentu terhadap sumber daya fisik yang menyangkut tanah garapan maupun sumber kekayaan alam, khsusnya sumber  yang tidak dapat diperbaharui (non renewable resources). Maka diajukan agar kebijakan di seluruh dunia diarahkan demikian rupa, sehingga dapat membekukan proses  pertumbuhan. Pembekuan seperti yang dimaksud berarti terdapatnya “Zero-growth” (tidak ada laju pertumbuhan sama sekali), baik menegnai produksi (barang) maupun Penduduk.  Hanya dengan denmikian berdasarkan penelitia MIT dunia ini dapat diamankan sebagai ruang hidup untuk manusia selama jangkauan masa  generasi-generasi yang akan dating.

Pandangan Soemitro Djojohadikusumo terhadap pandangan MIT tersebut adalah  bahwa di dalam menangani krisi lingkungan harus menitik beratkan  pada integrasi. Jika kita berhasil mengembangkan tehnologi yang relative bersih, tetapi tidak menghentikan pertumbuhan ekonomi, lambat laun pasti kita akan menghadapi  masalah pencemaran yang sama sulitnya  seperti yang sekarang kita hadapi sekarang dengan tidak mempunyai alat untuk mengatasinya. Sebaliknya jika kita menstabilkan perekonomian dan memelihara sumber daya alam dengan sebaik-baiknya, tanpa memperhatikan dan menstabikan penduduk, akhirnya kita tidak akan mampu memberikan makan mereka. Sebagaimana dikatakan Forrester dan Meadows secara menyakinkan, menyaiapkan program terpadu memang tidak mudah; tetapi cara pemecahan tambal sulam akhirnya akan mengundang lebih banyak  timbulnya masalah yang lebih besar lagi dari pada pemecahannya.

4.      Terangkan pengertian dan contoh-contoh hukum lingkungan menurut St. Munajat Danusaputro  ?

Jawab :

Pengertian dan contoh-contoh hukum lingkungan menurut St. Munajat Danusaputro di bagi menjadi menjadi 2 (dua)  yakni :

1.Hukum Lingkungan Modern.

Bertujuan  “menjaga dan memlihara Lingkungan hidup dengan segala isi dan kemungkinannya sebagai harta pusaka bersama demi untuk menjamin kelestariannya secara turun temurun” adalah  suatu PRINSIP FUNDAMENTAL, yang melandasi Sistem  Pengelolaan Lingkungan yang modern. Berdasarkan pada pengertian tersebut, maka  Hukum Lingkungan secara modern  dikenal sebagai : “Hukum yang berorientasi kepada  Lingkungan”, atau : Environment-oriented   Law.

Dengan demikian hukum lingkungan modern menetapkan ketentuan dan norma-norma  guna mengatur tindakan-perbuatan manusia dengan tujuan untuk melindungi  Lingkungan dari kerusakan  dan kemerosotan mutunya  demi untuk menjaga  kelestariannya agar dapat secara langsung terus – menerus digunakan oleh generasi sekarang dan yang akan datang.

Contoh :

  • Undang-undang ganguan (Hinder Ordonantie) 1926;
  • Undang-Undang Perlindungan Binatang Liar (Dierenbeschermingsordonnantie) 1931;
  • Undang-Undang Perlindungan  Alam ( atau Natuurbeschermingsordonnantie) 1941;
  • Undang-Undang pembentukan Kota 1948; dan serangkaian Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Meranturan Menteri, dan Peraturan Daerah lainnya seperti yang disajikan dalam Himpunan Peraturan Perundang-Undangan di bidang Lingkuangan Hidup  (1978).

2. Hukum Lingkungan  Klasik

Sedangkan hukum Lingkungan klasik secara mendasar lebih berorientasi kepada penggunaan dari pada  Lingkungan, hingga oleh karenannya  disebut juga  sebagai : “Used-orinted Law”. Oleha karena itu hukum Lingkungan Klasik  menetapkan ketentuan dan norma-norma dengan tujuan terutama sekali untuk menjamin penggunaan dan eksploitasi sumber daya lingkungan dengan berbagai akal dan kepandaian manusia guna mencapai hasil yang semaksimal mungkin, dan dalam jangka waktu yang sesingkat-singkatnya.

Contohnya :  Hak Ulayat.

 

Sugeng Meijanto Poerba, S.H., M.H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s