PEMIKIRAN HUKUM DARI MAZHAB HUKUM ALAM ARISTOTELES; THOMAS AQUINAS; DAN HUGO GROTIUS

A. PENDAHULUAN

 

Teori Hukum muncul selalu dari abad ke abad , dari generasi kegenerasi sehingga dari sini timbulah suatu warna tersendiri atas cara pandang hukum sesuai dengan zaman dan peralihanannya.

 

Teori Hukum berdasarkan materi kuliahnya yang diberikan oleh Prof Dr. Oka Setiawan, S.H., MH., SpN secara singkat dapat dikatakan suatu ilmu pengetahuan yang bersifat menerangkan mengenai hukum. Secara ilmu pengetahuan “teori hukum” adalah cabang dari ilmu pengetahuan hukum yang menganalisa berbagai aspek dari gejala hukum baik secara tersendiri dan dalam keseluruhannya, baik dalam konsepsi teoritisnya maupun dalam pengerjaannya secara praktis, dan dilakukan dalam prespektif interdisipliner dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik yang dapat menjelaskan gejala-gejala ini .

 

Sedangkan menurut Sacipto Rahardjo Teori Hukum adalah bagian dari ilmu hukum (dalam arti luas) yang mengorganisasikan dan mensistematiskan masalah-masalah hukum sehingga menghasilakn penjelasan yang lebih bersifat filsafati. Selabnjutnya dikatakan pula bahwa teori hukum memikirkan tentang hukum sampai jauh ke latar belakang hubungannya dengan konsepsi manusia, tentang hubungan antar manusia dengan manusia dan tentang manusia dengan lingkungannya Rumusan tersebut diilhami oleh pendapat Radbruch (dalam W. Friedmann) yang mengatakan bahwa tugas teori hukum adalah membuat jelas nilai-nilai hukum serta postulat-postulatnya sampai kepada landasan filosofisnya yang paling dalam.

 

Berkenaan dengan Teori Hukum, banyak kita kenal Teori Hukum, diantaranya Mazhab Hukum Alam, teori ini seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman selama berabad-abad toeri ini juga telah mengalami banyak perkembangan. Namun dengan adanya perubahan ini apakah hukum alam dapat kita kenali didalam upaya usaha manusia untuk menemukan hukum dan keadilan.

Dari penjelasanan tersebut diatas, penulis akan mengangkat Toeri Hukum Alam yang dikemukakan oleh Aristoteles; Thomas aquinas; dan Hugo Grotius; di dalam usaha manusia menemukan hokum dan keadilan.

 

B. PERMASALAHAN

 

Apakah manusia dapat menemukan hukum dan keadilan jika dikaitkan dengan Mazhab Hukum Alam sebagaimana yang dikemukanan oleh Aristoteles; Thomas aquinas; dan Hugo grotius .

 

C. PEMBAHASAN

 

Mazhab Hukum Alam

 

Hukum alam sesungguhnya merupakan suatu konsep yang mencakup banyak teori didalamnya. Berbagai anggapan dan pendapat yang dikelompokkan ke dalam hukum alam bermunculan dari masa ke masa.

Mempelajari sejarah hukum alam, maka kita akan mengkaji sejarah manusia yang berjuang untuk menemukan keadilan yang mutlak di dunia ini serta kegagalan-kegagalannya. Pada suatu saat hukum alam muncul dengan kuatnya, pada saat yang lain ia diabaikan, tetapi yang pasti hukum alam tidak pernah mati.

Hukum Alam adalah hukum yang normanya berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, dari alam semesta dan dari akal budi manusia, karenanya ia di gambarkan sebagai hukum yang berlaku abadi.

Hukum alam dimaknai dalam berbagai arti oleh beberapa kalangan pada masa yang berbeda. Berikut ini akan di paparkan pandangan hukum alam dari Aristoteles, Thomas Aquinas, dan Hugo Grotius;

 

 

 

 

Aristoteles;

 

Aristoteles merupakan pemikir tentang hukum yang petama-tama membedakan antara hukum alam dan hukum positip. Hukum alam adalah suatu hukum yang berlaku selalu dan dimana-mana karena hubungannya dengan aturan alam. Hukum itu tidak pernah berubah, tidak pernah lenyap dan berlaku dengan sendirinya. Hukum alam dibedakan dengan hukum positif, yang seluruhnya tergantung dari ketentuan manusia.

 

Hukum harus ditaati demi keadilan. Keadilan selain sebagai keutamaan umum (hukum alam) juga keadilan sebagai keutamaan moral khusus. Keadilan menentukan bagaimana hubungan yang baik antara sesama manusia, yang meliputi keadilan dalam pembagian jabatan dan harta benda publik, keadilan dalam transaksi jual beli, keadilan dalam hukum pidana, keadilan dalam hukum privat.

 

Thomas Aquinas;

 

Dalam membahas hukum Thomas membedakan antara hukum yang berasal dari wahyu dan hukum yang dijangkau akal budi manusia. Hukum yang didapat wahyu disebut hukum ilahi positif (ius divinum positivum). Hukum yang didapatkan berdasarkan akal budi adalah ‘hukum alam’(ius naturale), hukum bangsa-bangsa(ius gentium), dan hukum positif manusiawi (ius positivum humanum).

 

Menurut Aquinas hukum alam itu agak umum, dan tidak jelas bagi setiap orang, apa yang sesuai dengan hukum alam itu. Oleh karenanya perlu disusun undang-undang negara yang lebih kongkret mengatur hidup bersama. Inilah hukum posisif. Jika hukum positif bertentangan dengan hukum alam maka hukum alam yang menang dan hukum positif kehilangan kekuatannya. Ini berarti bahwa hukum alam memiliki kekuatan hukum yang sungguh-sungguh. Hukum positif hanya berlaku jika berasal dari hukum alam. Hukum yang tidak adil dan tidak dapat diterima akal, yang bertentangan dengan norma alam, tidak dapat disebut sebagai hukum, tetapi hukum yang menyimpang

 

Hugo Grotius;

 

Grotius adalah penganut humanisme, yang mencari dasar baru bagi hukum alam dalam diri manusia sendiri. Manusia memiliki kemampuan untuk mengerti segala-galanya secara rasional melalui pemikirannya menurut hukum-hukum matematika. Manusia dapat menyusun daftar hukum alam dengan menggunakan prinsip-prinsip a priori yang dapat diterima secara umum. Hukum alam tersebut oleh Grotius dipandang sebagai hukum yang berlaku secara real sama seperti hukum positif.

Hukum alam tetap berlaku, juga seandainya Allah tidak ada. Sebabnya adalah bahwa hukum alam itu termasuk akal budi manusia sebagai bagian dari hakekatnya. Dilain pihak Grotius tetap mengaku, bahwa Allah adalah pencipta alam semesta. Oleh karena itu secara tidak langsung Allah tetap merupakan pundamen hukum alam. Hak-hak alam yang ada pada manusia adalah;

• hak untuk berkuasa atas diri sendiri, yakni hak atas kebebasan.

• hak untuk berkuasa atas orang lain

• hak untuk berkuasa sebagai majikan

• hak untuk berkuasa atas milik dan barang-barang.

 

Grotius juga memberikan prinsip yang menjadi tiang dari seluruh sistem hukum alam yakni:

• prinsip kupunya dan kau punya. Milik orang lain harus dijaga

• prinsip kesetiaan pada janji

• prinsip ganti rugi

• prinsip perlunya hukuman karena pelanggaran atas hukum alam.

 

Sebagaimana telah di utarakan di muka, hukum alam ini selalu dapat dikenali sepanjang abad-abad sejarah manusia, oleh karena ia merupakan usaha manusia untuk menemukan hukum dan keadilan yang ideal.

 

D. KESIMPULAN

 

Dari teori yang diungkapkan oleh Aristoteles, Thomas Aquinas, dan Hugo Grotius mengenai Mazhab Hukum Alam, penulis berkesimpulan bahwa dengan menggunakan Mazab Hukum Alam manusia akan menemukan hukum dan keadilan karena hukum alam baik pandangan Aristoteles, Thomas Aquinas, dan Hugo Grotius pada dasarnya menyatakan bahwa Hukum Alam adalah hukum yang normanya berasal dari Tuhan Yang Maha Esa dimana terhadap hukum yang dibuat oleh manusia harus diberikan landasan dari teori hukum alam yang menjadi tiang dari seluruh sistem hukum alam.

 

Landasan – landasan pembatasan terhadap hukum yang dibuat manusia harus dibatasi dengan tiang hukum alam sebagai mana dikemukan oleh Grotius yakni: semua prinsip kupunya dan kau punya. Milik orang lain harus dijaga; prinsip kesetiaan pada janji; prinsip ganti rugi dan prinsip perlunya hukuman karena pelanggaran atas hukum alam. Dengan demikian hukum akan ditaati karena hukum akan memberikan suatu keadilan sesuai dengan porsinya.

 

DAFTAR BACAAN

1. EDWIN M. SCHUR, “Law and Society A Sociological View” dalam Sosiologi Hukum. Editor. Winarno Yudho. Jakarta: Universitas Indonesia, 2001.

2. FRIEDMAN, Wolfgang. Teori dan Filsafat Hukum . ( Legal Theory) diterjemahkan oleh Mohamad Arifin. Jakarta: Rajawali Pers, 1990.

3. HUIJBERS, Theo. Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah. Cet VIII. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

4. RAHARDJO, Satjipto. Ilmu Hukum. Cet. III. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991.

5. SOEKANTO, Soerjono. Pokok-pokok Sosiologi Hukum. Cet. VI. Jakarta: Rajawali Pers, 1991.

6. SOETIKSNO. Filsafat Hukum. Cet. VI. Jakarta: Pradnya Paramita, 1988.

Jakarta, Oktober 2007

Sugeng Meijanto Poerba.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s